Skip to content

Mengapa Belajar Sedikit Setiap Hari Mengalahkan Belajar Sekali Seharian | 11

10 menit baca
Mengapa Belajar Sedikit Setiap Hari Mengalahkan Belajar Sekali Seharian | 11

Halo. Ini Hari Kesebelas.

Dua orang mahasiswa menghadapi ujian yang sama. Total waktu belajar mereka sama: enam jam. Mahasiswa pertama belajar enam jam sehari sebelum ujian. Mahasiswa kedua belajar satu jam setiap hari selama enam hari.

Ujiannya sama. Waktunya sama. Hasilnya tidak sama.

Mahasiswa pertama lupa sebagian besar isinya sebelum ujian. Mahasiswa kedua masih mengingatnya sebulan kemudian.

Apa yang membedakan mereka bukan jumlah jam. Bukan kecerdasan. Bukan motivasi. Yang membedakan adalah kapan jam-jam itu dihabiskan.

Artikel ini dihasilkan oleh AI untuk proyek membaca 365 hari. Melatih fokus, membaca, berpikir, dan konsistensi.

Daftar Isi

Yang Terjadi Saat Anda Berhenti Belajar

Mari mulai dari sesuatu yang mungkin pernah Anda alami sendiri.

Anda baru selesai membaca sesuatu yang sulit. Anda paham saat itu. Anda bisa menjelaskannya ke teman kalau ditanya. Anda menutup buku dengan perasaan puas.

Dua hari kemudian, seseorang bertanya tentang topik itu. Anda ingat bahwa Anda pernah membacanya. Anda ingat bahwa itu penting. Tetapi Anda tidak bisa menjelaskannya lagi.

Seminggu kemudian, Anda hampir tidak ingat apa pun.

Sebulan kemudian, Anda bahkan tidak ingat bahwa Anda pernah membacanya.

Apa yang terjadi bukan karena Anda lupa cara belajar. Apa yang terjadi karena otak Anda melakukan sesuatu yang sengaja ia lakukan: ia membuang hal yang tidak ia gunakan.

Dari sudut pandang otak, ini masuk akal. Otak Anda tidak punya ruang untuk menyimpan semua yang pernah Anda lihat, dengar, dan baca. Kalau ia menyimpan semuanya, ia akan tenggelam. Jadi ia membuat pilihan. Ia menyimpan yang sering dipakai. Ia membuang yang tidak pernah dipakai.

Masalahnya, otak tidak tahu mana yang ingin Anda ingat. Ia hanya tahu mana yang sering Anda ambil. Kalau Anda tidak pernah mengambil sesuatu dari ingatan, otak menyimpulkan bahwa hal itu tidak penting. Ia membuangnya.

Inilah sebabnya belajar sekali seharian terasa seperti belajar, tetapi hasilnya tidak seperti belajar. Anda memasukkan banyak hal, tetapi Anda tidak pernah mengambilnya kembali. Otak menyimpulkan bahwa tidak ada yang layak disimpan.

Kurva Lupa

Pada tahun 1885, seorang psikolog Jerman bernama Hermann Ebbinghaus melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang sebelumnya. Ia menghafal daftar suku kata tanpa arti, lalu menguji dirinya sendiri pada interval yang berbeda: setelah dua puluh menit, satu jam, sembilan jam, satu hari, dua hari, enam hari, tiga puluh satu hari.

Ia menemukan pola yang sangat teratur. Ia menyebutnya kurva lupa. Bentuknya sederhana: setelah belajar, ingatan Anda turun dengan cepat pada awalnya, lalu melambat, lalu hampir datar.

Setelah satu hari, Anda kehilangan lebih dari setengah. Setelah seminggu, Anda kehilangan sebagian besar. Setelah sebulan, yang tersisa hanya sedikit.

Ebbinghaus melakukan ini pada dirinya sendiri dengan suku kata tanpa arti. Itu bukan kondisi yang sama dengan belajar sesuatu yang bermakna. Tetapi pola umumnya — cepat turun di awal, lalu melambat — telah berkali-kali direplikasi dalam berbagai bentuk.

Kurva ini menjelaskan mengapa belajar sekali seharian gagal. Anda memasukkan banyak hal. Tetapi Anda melakukannya dalam satu momen. Setelah momen itu, kurva lupa mulai bekerja. Ia tidak peduli bahwa Anda baru saja menghabiskan enam jam. Ia hanya tahu bahwa Anda belum pernah mengambil kembali apa yang Anda masukkan. Jadi ia mulai membuang.

Kalau Anda tidak pernah mengambil kembali, kurva lupa terus bekerja sampai yang tersisa hanya kesan samar.

Kurva lupa bukan musuh. Kurva lupa adalah cara otak memilah. Tetapi kalau Anda tidak bekerja dengan cara kerjanya, Anda akan melawan arus yang tidak bisa Anda kalahkan.

Jembatan Goyang

Untuk memahami apa yang seharusnya dilakukan, bayangkan sebuah jembatan.

Jembatan itu menghubungkan dua tempat: tempat Anda sekarang dan tempat yang ingin Anda tuju. Jembatan itu tidak kokoh. Ia terbuat dari papan yang sudah tua, dan setiap kali dilewati, ia bergoyang.

Sekarang perhatikan tiga kondisi.

Kondisi pertama: jembatan masih kokoh. Anda baru saja menyeberang. Papan-papannya rapat. Tidak ada goyangan. Kalau Anda menyeberang lagi sekarang, tidak ada yang berubah. Jembatan tidak jadi lebih kuat. Ia sudah kokoh, dan berjalan di atasnya sekali lagi tidak memperkuat apa pun.

Ini seperti membaca ulang segera setelah membaca. Meja masih penuh. Jalurnya masih segar. Anda tidak sedang memperkuat apa pun. Anda hanya berjalan di jembatan yang sudah Anda tahu bisa dilewati.

Kondisi kedua: jembatan sudah runtuh. Anda menunggu terlalu lama. Papan-papannya sudah jatuh ke sungai. Tidak ada jembatan lagi. Kalau Anda ingin menyeberang, Anda harus membangun ulang dari awal.

Ini seperti membaca sesuatu yang sudah Anda lupakan sepenuhnya. Anda harus mulai dari nol. Membangun ulang membutuhkan usaha yang sama seperti pertama kali. Bahkan kadang lebih sulit, karena Anda merasa seharusnya sudah tahu.

Kondisi ketiga: jembatan goyang tapi belum runtuh. Anda menunggu beberapa waktu. Papan-papannya mulai longgar. Ada satu-dua yang sudah miring. Kalau Anda menyeberang sekarang, jembatan bergoyang. Anda harus berhati-hati. Anda harus meletakkan kaki dengan tepat. Tetapi Anda bisa menyeberang.

Dan inilah yang terjadi: setiap kali Anda berhasil menyeberang jembatan yang goyang, jembatan itu diperkuat. Papan yang miring kembali lurus. Papan yang longgar kembali rapat. Jembatan yang tadinya hampir runtuh menjadi kokoh kembali, dan kokohnya lebih tahan lama dari sebelumnya.

Kondisi ketiga inilah yang optimal. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Cukup lambat sehingga ada sesuatu yang perlu diperkuat. Cukup cepat sehingga masih ada yang bisa diperkuat.

Kenapa Menunggu Justru Lebih Baik

Ini terdengar berlawanan dengan intuisi. Kalau Anda ingin mengingat sesuatu, bukankah Anda harus mengulangnya sesering mungkin, secepat mungkin?

Jawabannya tidak. Dan alasannya berakar pada cara kerja otak.

Ketika Anda mengambil sesuatu dari ingatan tanpa kesulitan, otak tidak menandai apa pun. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Jalurnya sudah kuat. Anda hanya berjalan di jalur yang sudah kuat.

Ketika Anda mengambil sesuatu dengan sedikit kesulitan — saat Anda harus berpikir, saat Anda hampir lupa tetapi masih ingat — otak menandai jalur itu sebagai penting. Ia memberi sinyal bahwa ini hampir hilang, jadi perlu diperkuat. Setelah upaya itu, jalur menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Inilah yang kita bahas di #9: mengambil itu belajar. Tetapi #9 belum menjelaskan kapan mengambil itu paling efektif. Sekarang kita bisa menjawabnya. Mengambil paling efektif ketika ada sedikit kesulitan. Bukan ketika ada banyak kesulitan, karena itu berarti sudah lupa. Bukan ketika tidak ada kesulitan, karena tidak ada yang diperkuat.

Mengambil pada titik hampir lupa adalah titik optimal.

Pengulangan Berjarak

Konsep ini punya nama. Namanya pengulangan berjarak.

Artinya sederhana: alih-alih mengulang sesuatu dalam satu sesi besar, Anda mengulangnya dalam beberapa sesi kecil yang dipisahkan oleh waktu. Setiap sesi berjarak dari yang sebelumnya. Jaraknya tidak acak. Jaraknya diperpanjang seiring waktu.

Anda belajar hari ini. Anda mengulang besok. Lalu tiga hari kemudian. Lalu seminggu kemudian. Lalu dua minggu kemudian. Lalu sebulan kemudian. Setiap kali, Anda mengulang sesuatu yang hampir Anda lupakan. Setiap kali, ingatan Anda menjadi lebih kuat.

Bandingkan dengan belajar sekali seharian. Anda memasukkan banyak hal dalam satu momen. Tidak ada pengambilan. Tidak ada penguatan. Yang tersisa hanya jejak yang memudar.

Atau bandingkan dengan mengulang setiap hari tanpa jeda. Anda mengulang sesuatu yang masih segar. Tidak ada kesulitan. Tidak ada penguatan. Anda hanya berjalan di jembatan yang kokoh, dan itu tidak membuatnya lebih kokoh.

Pengulangan berjarak bekerja karena ia memanfaatkan kurva lupa. Ia tidak melawan lupa. Ia bekerja dengan lupa. Ia membiarkan Anda hampir lupa, lalu mengambil kembali. Setiap siklus hampir-lupa-lalu-ingat adalah satu putaran penguatan.

Yang Tidak Kita Ketahui

Saya harus jujur tentang batas dari apa yang diketahui.

Yang kita yakini cukup kuat: pengulangan berjarak lebih efektif daripada pengulangan masif untuk ingatan jangka panjang. Ini telah direplikasi berkali-kali, dan meta-analisis yang menggabungkan hasil dari banyak studi mendukungnya. Anda bisa membacanya di tinjauan yang saya cantumkan di akhir.

Yang tidak kita ketahui: berapa jarak yang optimal.

Ini bukan pertanyaan yang punya satu jawaban. Jarak optimal bergantung pada beberapa hal. Seberapa sulit materi itu bagi Anda. Seberapa sering Anda akan menggunakannya. Berapa lama Anda ingin mengingatnya. Seberapa cepat Anda lupa. Dan setiap orang berbeda.

Seorang mahasiswa yang ingin mengingat sesuatu selama ujian besok punya jarak optimal yang berbeda dari seseorang yang ingin mengingat prinsip yang sama selama sepuluh tahun.

Saya juga tidak akan memberi Anda angka ajaib. Buku populer kadang menyebut jadwal tertentu sebagai “jadwal optimal.” Itu tidak benar. Tidak ada jadwal tunggal. Yang ada adalah prinsip, dan prinsip itu bisa Anda terapkan dengan cara Anda sendiri.

Prinsipnya: ulangi ketika Anda mulai lupa, bukan sebelum, bukan sesudah.

Kalau Anda mengulang saat masih segar, Anda membuang waktu. Kalau Anda mengulang setelah lupa total, Anda harus belajar dari awal. Titik optimalnya di antara. Dan Anda akan tahu kapan itu karena Anda akan merasa sedikit sulit, tetapi masih bisa.

Hubungan dengan Hari Kesembilan dan Kesepuluh

Tiga hari terakhir ini sebenarnya adalah satu cerita.

Di #9, kita bicara tentang mengapa membaca ulang tidak bekerja. Mengambil itu belajar, memasukkan hanya terasa seperti belajar.

Di #10, kita bicara tentang mengapa meja di kepala Anda kecil. Hanya sekitar empat tempat. Setiap ide baru mendorong ide lain jatuh.

Hari ini, #11 menggabungkan keduanya.

Karena meja kecil (#10), Anda tidak bisa menyimpan semua ide di meja sekaligus. Anda harus memindahkan ide ke lemari. Tetapi memindahkan ke lemari butuh mengambil (#9). Setiap kali Anda mengambil, Anda memindahkan satu ide dari lemari ke meja, lalu mengembalikannya ke lemari dengan jalur yang lebih kuat.

Kalau Anda mengambil terlalu cepat, ide itu masih segar di meja. Anda tidak perlu memindahkannya dari lemari karena ia belum sampai ke lemari. Tidak ada yang diperkuat.

Kalau Anda mengambil terlalu lambat, ide itu sudah jatuh dari lemari. Anda harus belajar dari awal.

Ambil pada titik di antaranya. Saat ide masih di lemari, tetapi jalurnya mulai kabur. Ambil sekarang, dan jalurnya menjadi jelas.

Itulah pengulangan berjarak. Itulah mengapa belajar sedikit setiap hari mengalahkan belajar banyak sekali.

Yang Bisa Dilakukan Malam Ini

Saya tidak akan memberi daftar tips. Satu perubahan.

Sebelum membaca artikel baru besok, coba ingat dulu apa yang Anda baca hari ini. Tanpa melihat teks. Satu sampai dua menit.

Kalau tidak bisa, buka lagi. Baca sekali. Tutup. Coba ingat lagi.

Itu saja.

Ini akan terasa aneh karena Anda baru membaca kemarin. Tetapi justru itu titiknya. Besok, saat Anda membaca artikel baru, ingatan tentang hari ini akan mulai kabur. Kalau Anda tidak mengambilnya besok, ia akan terus kabur. Kalau Anda mengambilnya besok, jalurnya diperkuat.

Dalam seminggu, coba ingat lagi. Dalam sebulan, coba ingat lagi. Anda tidak perlu membuat jadwal. Anda hanya perlu mengingat untuk mengingat. Setiap kali Anda ingat bahwa ada sesuatu yang perlu diambil, ambil. Kalau sudah terlalu lama, ulangi dari awal. Kalau masih segar, tunggu sebentar lagi.

Untuk proyek ini, ini adalah latihan kedua setelah latihan mengingat dari #9. #9 mengajarkan Anda untuk mengambil setelah setiap bagian. #11 mengajarkan Anda untuk mengambil lagi keesokan harinya, dan lagi beberapa hari kemudian. Ini bukan dua latihan. Ini satu latihan yang sama, tersebar dalam waktu.

Kalau Anda melakukan ini selama 365 hari, hasilnya bukan 365 artikel yang Anda baca. Hasilnya adalah ratusan ide yang masih ada di lemari Anda, dan yang jalurnya cukup kuat untuk Anda ambil kapan pun Anda perlu.

Penutup

Jembatan yang kokoh tidak menjadi lebih kokoh saat dilewati. Jembatan yang sudah runtuh tidak bisa dilewati. Yang memperkuat jembatan adalah menyeberang saat ia goyang.

Referensi

  • Ebbinghaus, H. (1885). Über das Gedächtnis. (Terjemahan Inggris: Memory: A Contribution to Experimental Psychology, 1913.)
  • Cepeda, N. J., Pashler, H., Vul, E., Wixted, J. T., & Rohrer, D. (2006). Distributed practice in verbal recall tasks: A review and quantitative synthesis. Psychological Bulletin, 132(3), 354–380.
  • Dunlosky, J., Rawson, K. A., Marsh, E. J., Nathan, M. J., & Willingham, D. T. (2013). Improving students’ learning with effective learning techniques. Psychological Science in the Public Interest, 14(1), 4–58.

Catatan: Pola umum kurva lupa dari Ebbinghaus dan keunggulan pengulangan berjarak dari Cepeda dkk. adalah dua hal yang saya yakini cukup kuat. Detail angka pasti dari Ebbinghaus tidak saya cantumkan karena studi itu dilakukan pada satu orang — dirinya sendiri — dengan materi tanpa arti, sehingga angkanya tidak bisa digeneralisasi ke belajar sehari-hari. Yang bisa digeneralisasi adalah bentuk kurvanya, bukan angkanya.

Fuji

Selamat membaca.

Bagikan