Satu hari ketika saya memutuskan untuk tidak membuka HP selama beberapa hari, seorang teman mendadak menghampiri dengan wajah heran.
Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah sebuah pertanyaan sejuta umat.
”Ke mana aja?”
Padahal selama ini saya hidup, saya makan tiga kali sehari, saya menyapa kucing, dan hidup layaknya manusia pada umumnya. Namun di zaman sekarang, kalau kita ga aktif di medsos, kita seakan-akan dianggap hilang atau ga ada kabar sama sekali.
Lho, emangnya kalau akunnya ga aktif, orangnya mati?
Pikiran itu mendadak muncul di kepala wkwk. Tapi ya memang tidak ada yang salah dengan pertanyaan teman saya itu. Hanya saja, standar “keberadaan” kita hari ini rasanya sudah bergeser ke layar ponsel.
Nah, obrolan santai soal eksistensi kita di dunia nyata ini sebenarnya relate banget sama buku yang lagi saya baca belakangan ini.
[Tempatkan Gambar Buku Bagaimana Sosial Media Menghancurkanmu di sini]
Isu tentang bagaimana kita pelan-pelan “hilang” di dunia nyata ini dikuliti habis oleh Eno Bening dalam bukunya, Bagaimana Sosial Media Menghancurkanmu. Pas baca buku ini, saya berasa lagi ngaca dan ditampar sama kebiasaan sendiri tiap hari.
Siapa Kamu?
Kalau saya bertanya kepada Anda, “Siapa kamu?”
Pasti kita bakalan refleks menjawab dengan menyebutkan nama atau profesi. Tapi, benarkah itu diri kita yang sesungguhnya?
Bukan. Tubuh, jantung, maupun otak ini hanyalah organ fisik milik kita. Sederhananya, diri kita yang asli itu adalah kesadaran itu sendiri—entitas yang menyadari kalau kita lagi bernapas, lagi berpikir, dan lagi menjalani hidup secara nyata.
Masalahnya, kesadaran yang tenang ini sering kali gampang hanyut pas kita mulai membuka internet. Kita bersama-sama masuk ke kondisi hiperealitas, situasi di mana kita udah susah membedakan mana realita yang nyata dan mana ilusi internet.
Ambil contoh kasus nyata tahun 2019 di Jakarta. Seorang suami tega membunuh istrinya sendiri hanya karena sang istri mengubah status hubungan di Facebook menjadi “Lajang”.
Di dunia internet, sebuah tulisan status di media sosial rasanya bisa dianggap jauh lebih valid untuk menentukan harga diri seseorang dibandingkan sosok manusia aslinya yang ada di depan mata.
Cara media sosial mengubah kesadaran kita jadi angka
Saya sendiri adalah pengguna sosmed setia dari 2014 saat umur masih 12 tahun menggunakan HP Blackberry yang keyboardnya masih pake tombol.
[Tempatkan Gambar HP BlackBerry Klasik Lama di sini]
Di keseharian, aktivitas internet saya sangat “sibuk”:
- Memalsukan umur demi membuat akun.
- Rajin share postingan tidak jelas.
- Chat orang random di Messenger.
Identitas saya waktu itu sudah sangat melekat sebagai anak internet banget. Namun akhir-akhir ini, dunia internet rasanya sudah tidak se-seru dulu lagi.
Bukan karena pengen membandingkan zaman kayak boomer, toh kita semua juga menikmati internet hari ini. Kenyamanan interaksi kita saja yang mulai hilang semenjak format video pendek mengubah cara berkomunikasi.
Sekaturan, obrolan dua arah yang intens sudah mulai jarang terjadi. Interaksi sama teman lama pun sering kali menyusut. Bertukar kabar kini digantikan oleh saling melempar link video pendek atau reels.
Hubungan pertemanan kita di internet hari ini sering kali terjebak dalam lingkaran transaksi visual, Anda mengirimkan video, saya menontonnya, lalu saya mengirim ulang video lain, dan begitu seterusnya.
Seolah-olah kalau kita mengabaikan kiriman meme dari teman, kita bakal dicap garing. Saya pun sering banget melakukan hal yang sama.
Cara media sosial mengubah interaksi kita jadi hampa
Sisi gelap dari media sosial modern adalah bagaimana platform menguras waktu dan perhatian kita.
Kita semua sengaja dibuat seolah-olah dikelilingi banyak orang lewat angka likes yang muncul di baris notifikasi. Platform mendesain ikon love biar kita ngerasa dipedulikan, padahal kita tahu belum tentu ada kepedulian nyata di balik ketukan layar tersebut.
Ternyata capek juga ya kalau hidup berubah jadi ajang ngebuktiin diri terus. Setiap kali melihat orang lain bergerak dikit di medsos, kepala langsung merasa tertinggal. Rasanya melelahkan banget harus terus-terusan memendam kecemasan itu sendirian tiap hari.
Pas lagi mati gaya beberapa detik di tempat umum, tangan kita refleks membuka aplikasi dan berujung mindless scrolling berjam-jam untuk mengusir bosan.
[Tempatkan Gambar Ilustrasi Orang Terjebak Algoritma HP di sini]
Secara tidak sadar, posisi kita bukan lagi pengguna yang memegang kendali penuh, melainkan bagian dari perputaran iklan yang diatur oleh algoritma setiap hari.
Makanya, wajar juga jika yang tampak di medsos bukan lagi interaksi antarmanusia, melainkan sekadar interaksi antarakun. Imbasnya, ketika sebuah akun berhenti bergerak, pemiliknya otomatis dianggap sedang tidak ada.
Buku ini menarik karena ditulis bukan untuk menceramahi atau sok tahu memberikan solusi instan.
Toh, besok subuh mungkin kita masih akan kebablasan scrolling reels lagi karena keasikan. Saya pun sama. Kita semua cuma manusia biasa yang lagi mencoba bertahan di tengah ramainya algoritma hari ini.
Kalau kamu penasaran dengan ulasan lengkapnya, coba deh baca buku Bagaimana Sosial Media Menghancurkanmu. Buku ini pas banget buat dibaca santai pas lagi pengen rehat sejenak dari layar HP.
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di keresahan selanjutnya, semoga.