Skip to content

Charles Darwin dan Tubuh yang Tidak Bisa Diandalkan | 14

12 menit baca
Charles Darwin dan Tubuh yang Tidak Bisa Diandalkan | 14

Halo. Ini Hari Keempat Belas.

Charles Darwin menghabiskan hampir empat puluh tahun hidupnya dalam keadaan sakit. Mual, muntah, gemetar, pusing, dan kelelahan yang tidak bisa dijelaskan oleh kedokteran saat itu. Ia tidak pernah tahu satu hari pun kesehatan manusia biasa. Dari usia dua puluhan hingga kematiannya, tubuhnya adalah beban yang harus ia seret setiap hari.

Tetapi justru dari tubuh yang rapuh itu, ia menghasilkan salah satu teori paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

#darwin #biografi #sejarah #evolusi #selfimprovement

Artikel ini dihasilkan oleh AI untuk proyek membaca 365 hari. Melatih fokus, membaca, berpikir, dan konsistensi.

Daftar Isi

Mitos yang Perlu Dibongkar

Selama beberapa dekade, ada satu cerita yang selalu diceritakan tentang Charles Darwin.

Ceritanya begini: Darwin menemukan ide tentang seleksi alam pada tahun 1830-an. Ia tahu idenya akan kontroversial. Ia takut dicemooh, takut kehilangan reputasi, takut dianggap sesat. Jadi ia menyembunyikan idenya selama dua puluh tahun. Ia baru menerbitkannya pada tahun 1859, ketika Alfred Russel Wallace, seorang naturalis muda, mengiriminya surat yang berisi ide yang sama. Baru pada saat itulah Darwin panik dan buru-buru menerbitkan bukunya sebelum didahului.

Cerita ini terdengar dramatis. Ia punya konflik, ketegangan, dan ironi. Ia mudah diingat. Dan menurut penelitian sejarah yang lebih baru, ia sebagian besar adalah mitos.

Seorang sejarawan dari Universitas Cambridge, John van Wyhe, melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap surat-surat, catatan harian, dan publikasi Darwin. Kesimpulannya: tidak ada bukti bahwa Darwin menunda karena takut. Yang ada adalah bukti bahwa ia memang berniat menerbitkan, tetapi ia sedang sibuk mengerjakan proyek lain, dan kesehatannya yang buruk berulang kali menghentikannya.

Penundaan itu bukan satu keputusan besar untuk bersembunyi. Itu adalah hasil dari serangkaian penundaan kecil, masing-masing disebabkan oleh hal yang berbeda: pekerjaan yang belum selesai, penyakit yang kambuh, dan keyakinan bahwa karyanya belum cukup kuat untuk diterbitkan.

Ini adalah pola pertama dari kehidupan Darwin: sesuatu yang terlihat seperti satu keputusan besar, menunda selama dua puluh tahun, sebenarnya adalah akumulasi dari banyak keputusan kecil yang dipaksa oleh kondisi.

Tubuh yang Tidak Bisa Diandalkan

Untuk memahami mengapa Darwin bekerja seperti yang ia lakukan, kita perlu memahami tubuhnya.

Pada usia dua puluhan, setelah kembali dari pelayaran lima tahun dengan HMS Beagle, Darwin mulai menderita serangkaian gejala yang tidak pernah sepenuhnya hilang. Mual, muntah, nyeri perut, gemetar, pusing, kelelahan yang ekstrem, dan insomnia. Gejalanya bervariasi dalam keparahan. Ada periode ketika ia bisa bekerja beberapa jam sehari. Ada periode ketika ia terbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan, tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun.

Dokter pada saat itu tidak bisa mendiagnosisnya. Berbagai teori diajukan: penyakit tropis yang ia dapatkan selama pelayaran, gangguan psikosomatis, atau penyakit genetik. Hingga hari ini, penyebab pasti penyakit Darwin masih diperdebatkan. Yang jelas, gejalanya nyata dan membatasi hidupnya secara signifikan.

Bayangkan konsekuensinya. Anda punya ambisi besar. Anda punya pertanyaan yang ingin Anda jawab. Anda punya waktu, kecerdasan, dan sumber daya. Tetapi tubuh Anda tidak bisa diandalkan. Anda tidak bisa berencana untuk bekerja delapan jam besok, karena Anda tidak tahu apakah besok Anda akan bisa bangun dari tempat tidur.

Sebagian besar orang dalam situasi ini akan menyerah. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena sistem kerja normal tidak dirancang untuk tubuh yang tidak normal. Sistem kerja normal mengasumsikan bahwa Anda punya blok waktu yang bisa Anda andalkan. Delapan jam kerja. Lima hari seminggu. Ini adalah asumsi yang tidak berlaku bagi Darwin.

Sistem Kerja untuk Tubuh yang Rapuh

Yang membuat Darwin berbeda bukan kecerdasannya. Banyak orang cerdas di zamannya. Yang membuatnya berbeda adalah ia membangun sistem kerja yang menghormati keterbatasan tubuhnya, bukan melawannya.

Kita bisa merekonstruksi rutinitas hariannya dari catatan dan surat-suratnya. Rutinitas ini sangat teratur, hampir seperti ritual.

Ia bangun pagi, sekitar pukul tujuh, dan berjalan kaki sebentar sebelum sarapan. Ia bekerja di ruang kerjanya dari pukul delapan hingga sekitar pukul sembilan tiga puluh. Lalu ia beristirahat. Ia berjalan lagi, sering kali mengelilingi jalur kerikil di belakang rumahnya yang disebut Sandwalk. Ia kembali bekerja sebentar, lalu makan siang. Setelah makan siang, ia membaca surat kabar atau menulis surat. Lalu ia beristirahat lagi, sering kali berbaring sambil mendengarkan istrinya, Emma, membacakan novel. Ia bekerja lagi sebentar di sore hari. Lalu makan malam, bermain dengan anak-anaknya, dan tidur lebih awal.

Perhatikan sesuatu tentang jadwal ini. Total waktu kerja produktifnya, tidak termasuk menulis surat dan membaca, mungkin hanya sekitar tiga hingga empat jam sehari. Kadang kurang. Pada hari-hari buruk, tidak ada sama sekali.

Ini bukan jadwal orang malas. Ini jadwal seseorang yang telah menerima bahwa tubuhnya tidak bisa memberi lebih dari itu, dan yang telah memutuskan untuk menggunakan apa yang tersedia dengan sebaik-baiknya.

Ada beberapa prinsip yang bisa kita tarik dari sistem ini.

Pertama, kerja pendek yang sering lebih baik daripada kerja panjang yang jarang. Darwin tidak menunggu sampai ia merasa cukup baik untuk bekerja delapan jam. Ia bekerja ketika ia merasa cukup baik untuk bekerja satu jam. Hasilnya, dalam setahun, akumulasi dari ratusan jam kerja pendek jauh lebih besar daripada beberapa hari kerja panjang yang diikuti dengan berminggu-minggu pemulihan.

Kedua, istirahat bukan kemalasan. Istirahat adalah bagian dari pekerjaan. Darwin mengambil beberapa istirahat panjang setiap hari. Ia berbaring. Ia mendengarkan novel. Ia berjalan kaki. Ini bukan waktu yang terbuang. Ini adalah waktu yang memungkinkan jam-jam kerja berikutnya terjadi. Tanpa istirahat ini, ia akan runtuh, dan tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan sama sekali.

Ketiga, sistem harus mengakomodasi hari-hari buruk. Darwin tidak berencana untuk bekerja setiap hari. Ia tahu bahwa ada hari-hari ketika ia tidak bisa bekerja sama sekali. Sistemnya cukup fleksibel untuk menampung hari-hari itu tanpa runtuh. Ia tidak merasa bersalah pada hari-hari buruk. Ia hanya kembali bekerja pada hari berikutnya ketika tubuhnya mengizinkan.

Keempat, lingkungan mendukung pekerjaan. Darwin bekerja di rumahnya di Down House, jauh dari hiruk-pikuk London. Ia punya jalur khusus untuk berjalan. Ia punya ruang kerja yang tenang. Istrinya, Emma, mengatur rumah tangga sehingga gangguan diminimalkan. Anak-anaknya diajari untuk tidak mengganggu ayah mereka ketika ia sedang bekerja. Sistem kerja Darwin bukan hanya tentang jadwalnya. Ini tentang seluruh lingkungan yang dirancang untuk melindungi waktu dan energinya yang terbatas.

Delapan Tahun untuk Kerang

Sekarang mari kita lihat bagaimana sistem ini bekerja dalam praktik.

Pada tahun 1846, Darwin mulai mempelajari sesuatu yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan teorinya tentang evolusi: teritip, atau kerang laut kecil. Ia bermaksud menulis satu makalah pendek tentang spesimen yang telah ia kumpulkan selama pelayaran Beagle. Makalah itu berkembang menjadi buku. Buku itu berkembang menjadi beberapa volume. Pekerjaan itu memakan waktu delapan tahun, dari tahun 1846 hingga 1854.

Delapan tahun untuk kerang. Bagi orang luar, ini mungkin tampak seperti pemborosan waktu. Mengapa menghabiskan delapan tahun untuk mempelajari makhluk kecil, ketika Anda punya teori besar yang perlu ditulis?

Tetapi ada alasan di balik keputusan ini. Pertama, Darwin menyadari bahwa ia perlu memahami variasi dalam satu spesies secara mendalam sebelum ia bisa yakin bahwa seleksi alam bekerja seperti yang ia pikirkan. Kerang memberinya contoh yang jelas tentang bagaimana variasi kecil bisa memiliki konsekuensi besar. Kedua, mempelajari kerang memberinya kredibilitas ilmiah. Sebelum karya kerangnya, ia dikenal sebagai naturalis yang menulis buku perjalanan yang populer. Setelah karya kerangnya, ia diakui sebagai ahli biologi yang serius. Ketiga, pekerjaan ini memberinya waktu. Waktu untuk memikirkan teorinya lebih dalam, waktu untuk mengumpulkan lebih banyak bukti, waktu untuk menjadi lebih yakin.

Ini adalah pola kedua dari kehidupan Darwin: ia tidak terburu-buru. Ia membiarkan satu proyek berkembang menjadi proyek lain, mengikuti rasa ingin tahu dan kebutuhan, bukan tenggat waktu yang dibuat-buat. Dalam sistem kerja yang dibatasi oleh tubuhnya, ia tidak bisa bekerja cepat. Jadi ia bekerja lambat, tetapi terus-menerus.

Delapan tahun untuk kerang terdengar seperti penundaan. Tetapi dalam delapan tahun itu, ia tidak berhenti berpikir tentang evolusi. Ia hanya menunggu sampai waktunya tepat.

Kehilangan yang Tidak Bisa Dihibur

Pada tahun 1851, putri Darwin yang berusia sepuluh tahun, Annie, meninggal. Ia sakit selama beberapa minggu, dan Darwin merawatnya di samping tempat tidurnya sampai akhir. Kematiannya adalah salah satu peristiwa paling menyakitkan dalam hidup Darwin.

Darwin menulis sebuah memoir tentang Annie setelah kematiannya. Ini bukan untuk publikasi. Ini untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Dalam memoir itu, ia menulis tentang keceriaan Annie, tentang betapa sensitifnya ia, tentang bagaimana ia suka berlari menuruni tangga dengan membawa sejumput tembakau untuk ayahnya. Ini adalah salah satu tulisan paling emosional yang pernah ia buat.

Banyak orang percaya bahwa kematian Annie menyebabkan Darwin kehilangan imannya pada Tuhan. Ini adalah salah satu narasi paling umum tentang hidupnya. Tetapi menurut penelitian sejarah yang lebih baru, narasi ini tidak sepenuhnya didukung bukti. Darwin memang kehilangan imannya, tetapi prosesnya bertahap dan terjadi sebelum Annie meninggal. Ia sendiri menulis bahwa kehilangan imannya terjadi perlahan, begitu lambat sehingga saya tidak merasa terganggu.

Ini penting karena dua alasan. Pertama, ini menunjukkan bahwa narasi yang rapi dan dramatis, kematian anak menyebabkan kehilangan iman, seringkali tidak akurat. Hidup lebih berantakan dari itu. Kedua, ini menunjukkan bahwa Darwin bisa menahan kehilangan yang luar biasa tanpa harus mengubah seluruh pandangan dunianya secara dramatis. Ia berduka. Ia menulis memoir. Ia melanjutkan hidup.

Ini bukan berarti ia tidak terluka. Ia terluka. Tetapi ia tidak membiarkan rasa sakitnya menjadi satu-satunya cerita tentang hidupnya.

Harga dari Pola Ini

Sistem kerja Darwin berhasil. Ia menerbitkan On the Origin of Species pada tahun 1859, dan buku itu mengubah dunia. Tetapi sistem itu punya harga.

Harga pertama adalah isolasi. Darwin hidup relatif terisolasi di Down House. Ia jarang pergi ke London. Ia menghindari pertemuan sosial yang panjang. Ia tidak bisa berpartisipasi dalam kehidupan ilmiah seperti yang dilakukan rekan-rekannya. Ini bukan pilihan yang ia buat dengan senang hati. Ini adalah konsekuensi dari tubuhnya. Ia harus memilih antara memiliki kehidupan sosial yang normal atau memiliki energi untuk bekerja. Ia memilih bekerja.

Harga kedua adalah ketergantungan pada orang lain. Sistem kerja Darwin tidak akan berfungsi tanpa Emma dan anak-anaknya. Mereka mengatur rumah tangga, melindunginya dari gangguan, membawakannya makanan, membacakannya buku, dan menjaganya tetap waras. Ini adalah bentuk kerja yang tidak terlihat, yang sering tidak dicatat dalam biografi, tetapi yang tanpanya tidak akan ada Origin of Species. Darwin sendiri mengakui ini. Ia tahu bahwa ia berhutang budi pada keluarganya.

Harga ketiga adalah rasa sakit yang terus-menerus. Darwin tidak pernah bisa melupakan tubuhnya. Setiap hari, ia harus memikirkan apakah ia cukup kuat untuk bekerja. Setiap hari, ia harus berhenti bekerja ketika ia masih ingin melanjutkan. Ini adalah kehidupan yang melelahkan, bukan hanya secara fisik, tetapi secara mental. Ia hidup dengan ketidakpastian yang konstan tentang apa yang bisa ia lakukan hari ini.

Apakah harga ini sepadan? Itu bukan pertanyaan yang bisa saya jawab. Yang bisa saya lakukan adalah menunjukkan bahwa ada harga, dan bahwa Darwin memilih untuk membayarnya.

Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Dipelajari

Sekarang mari kita bicara tentang apa arti kehidupan Darwin bagi kita.

Yang bisa dipelajari:

Pertama, sistem lebih penting daripada motivasi. Darwin tidak bisa mengandalkan motivasi untuk bangun setiap hari dan bekerja. Ia membangun sistem yang memungkinkan pekerjaan terjadi bahkan ketika motivasi rendah dan tubuh lemah. Sistem itu melibatkan jadwal, lingkungan, dan dukungan dari orang lain. Ini adalah pelajaran yang berlaku untuk siapa pun yang mencoba membangun kebiasaan atau mencapai sesuatu yang sulit.

Kedua, kerja pendek yang konsisten mengalahkan kerja panjang yang jarang. Tiga jam sehari selama bertahun-tahun menghasilkan lebih banyak daripada delapan jam sehari selama beberapa minggu. Ini adalah prinsip yang sama yang kita bahas di #11 tentang pengulangan berjarak, diterapkan pada pekerjaan kreatif.

Ketiga, menerima keterbatasan bukan berarti menyerah. Darwin tidak bisa mengubah tubuhnya. Ia tidak bisa menyembuhkannya. Tetapi ia bisa mengubah cara ia bekerja. Ia bisa membangun sistem yang menghormati keterbatasannya. Ini adalah perbedaan antara pasrah dan strategi.

Keempat, narasi yang rapi seringkali tidak akurat. Cerita tentang Darwin yang menunda karena takut adalah cerita yang bagus. Tetapi itu tidak benar. Kehidupan nyata lebih berantakan, lebih membosankan, dan lebih menarik daripada mitos yang kita ciptakan tentangnya.

Yang tidak bisa dipelajari:

Kita tidak bisa meniru keberuntungannya. Darwin lahir dalam keluarga kaya. Ia bisa kuliah tanpa harus bekerja untuk membiayai hidupnya. Ia bisa menghabiskan delapan tahun mempelajari kerang tanpa harus khawatir tentang uang. Ia punya rumah besar dengan taman. Ia punya istri yang mengabdikan hidupnya untuk mendukung pekerjaannya. Ini bukan sesuatu yang bisa direplikasi oleh semua orang. Mengabaikan faktor keberuntungan ini akan menghasilkan pemahaman yang salah tentang bagaimana kesuksesan terjadi.

Kita juga tidak bisa meniru zamannya. Abad ke-19 adalah zaman ketika seorang naturalis amatir bisa membuat kontribusi besar. Sekarang, sains adalah usaha besar yang membutuhkan laboratorium, dana, dan tim. Ini tidak berarti tidak ada lagi tempat untuk individu. Tetapi konteksnya berbeda.

Dan kita tidak bisa meniru penyakitnya. Penderitaan Darwin adalah bagian dari cerita, tetapi bukan sesuatu yang bisa atau harus ditiru. Ia tidak memilih untuk sakit. Ia hanya memilih bagaimana merespons.

Penutup

Charles Darwin tidak menaklukkan tubuhnya. Ia tidak mengalahkan penyakitnya. Ia hidup dengan keduanya selama hampir empat puluh tahun.

Yang ia lakukan adalah membangun sebuah kehidupan yang memungkinkan pekerjaannya terjadi meskipun ada rasa sakit. Ia bekerja tiga jam sehari. Ia beristirahat lebih banyak daripada yang ia bekerja. Ia membiarkan proyek-proyeknya berkembang lambat. Ia bergantung pada orang lain. Ia menerima bahwa ia tidak bisa melakukan apa yang dilakukan orang lain.

Dan dari kehidupan yang dibatasi oleh tubuh yang rapuh itu, ia menghasilkan sebuah teori yang mengubah cara kita memahami kehidupan itu sendiri.

Mungkin pelajarannya bukan tentang bagaimana menjadi seorang jenius. Mungkin pelajarannya adalah tentang bagaimana membangun sebuah kehidupan yang memungkinkan kerja Anda terjadi, bahkan ketika tubuh Anda tidak bekerja sama.

Referensi

  • Van Wyhe, J. (2007). Mind the gap: Did Darwin avoid publishing his theory for many years? Notes and Records of the Royal Society, 61(2), 177–205.
  • Browne, J. (1995). Charles Darwin: Voyaging. Princeton University Press.
  • Browne, J. (2002). Charles Darwin: The Power of Place. Princeton University Press.
  • Darwin, C. (1887). The Life and Letters of Charles Darwin (F. Darwin, Ed.). John Murray.
  • Darwin, C. (1958). The Autobiography of Charles Darwin 1809-1882 (N. Barlow, Ed.). Collins.
  • Van Wyhe, J., & Pallen, M. J. (2012). The ‘Annie Hypothesis’: Did the death of his daughter cause Darwin to ‘give up Christianity’? Centaurus, 54(2), 105–123.

Catatan: Artikel ini didasarkan pada sumber-sumber yang saya yakini dapat diverifikasi. Namun, saya tidak dapat mengakses arsip asli atau biografi secara langsung dalam percakapan ini. Detail seperti tanggal, kutipan, dan urutan peristiwa disajikan berdasarkan pemahaman saya dari sumber-sumber tersebut. Untuk verifikasi lebih lanjut, pembaca dapat merujuk pada biografi Janet Browne dan arsip Darwin Online.

Fuji

Selamat membaca.

Bagikan