Skip to content
Fuji Fuji

izin off

4 min read
izin off

“Ke mana aja?”

Teman saya baik, bertanya dengan heran.

Saya sedang jarang membuka HP, selama beberapa hari ini.

Ada kok, di rumah, makan tidur dan menyapa kucing.

Ada, dan hidup. Tapi karena tidak terlihat di sosial media, bisa jadi dianggap tidak ada


Pertanyaan itu mengingatkan saya, ketika saya tidak bisa lepas dari HP.

Pandemi membuat saya tidak keluar rumah hingga tiga bulan, dan screentime pernah tembus 19 jam sehari.

Tangan saya selalu memegang HP, bahkan saat tidur.

Waktu itu, saya tidak merasa ada yang keliru dengan kebiasaan tersebut.


Saya mencoba untuk mengurangi screentime, tetapi gagal terus.
Terasa ada yang kurang kalau tanpa HP.


Suatu malam, saya lagi buka YouTube. Nontonin podcast Kevin Anggara & Eno Bening..

“Eh, lo kan punya buku?” ucap Kevin bertanya kepada Eno.

Di situ saya baru tahu, ternyata Eno Bening menulis buku.

Karena penasaran, saya cari di Shopee, dan ternyata ada. Cover bukunya gambar anime, entah kenapa menarik 😅

Jadi, saya beli :v

Bagaimana Sosial Media Menghancurkanmu – Eno Bening dkk.


Selama saya membaca bukunya,

saya menemukan fakta menarik. Bahwa, sosmed yang dulunya tempat buat sharing, sekarang berubah menjadi industri.

“Orang bisa dianggap ADA kalau akun sosmednya aktif, kalau tidak, seolah hilang dari sejarah.”

Di sosmed, kita bisa merasa bahwa sosmed adalah kenyataan itu sendiri. Contohnya di buku tersebut, pernah ada sebuah kasus.

Ada sepasang suami istri yang sudah menikah. Tapi, sang istri memasang status “lajang” di Facebook. Sang suami marah dan sampai memvunuh istrinya.

Ya, mungkin itu menjadi salah satu penyebab, tapi ini menandakan bahwa sosmed sudah menjadi suatu realita baru, yang mana di buku tersebut disebutnya hiperealitas.

Di mana kita sudah menganggap sosial media sebagai kenyataan itu sendiri.

Saya mulai memperhatikan, kebiasaan saya saat membuka sosmed.



Saat saya kecanduan, sudah otomatis aja.

Jikalau gabut, langsung buka sosmed. Gatau ngapain.

Kadang colek-colek orang di FB, kirim-kirim stiker ke temen di WhatsApp, -nyari foto di Pinterest buat dijadikan foto profil (ganti-ganti wkwk).

Fomo doang, penuh dengan ketidakpentingan…


Fenomena FOMO

Pernah ngga? Saat kamu melihat orang lain “bergerak” sedikit saja, kepala merasa tertinggal?

  • Takut tertinggal sesuatu

  • tapi malah meninggalkan mimpi kita sendiri

  • Malas mengerjakan yang penting

  • tapi kelewat rajin mengerjakan hal yang tidak berguna

Nah, di dalam buku itu, dijelaskan bahwa FOMO bisa mempengaruhi perilaku kita sehari-hari, lho.

Saya rekomendasikan untuk membacanya sendiri untuk lebih detail…


Mencoba Mengurangi

Ketika sedang scroll Facebook, orang yang saya follow yaitu Ahmad Saugi memposting.

Ilustrasi puasa sosmed

“Puasa sosmed selama 30 hari”, katanya.

Ia juga menulis manfaat yang ia dapat saat pasca eksperimen tersebut.

  • Fokus berjam-jam
  • Lebih peaceful
  • Membuka sosmed secara SADAR

Menarik…

Kemudian, saya ikut mencoba selama beberapa hari aja.

Saya mengira itu akan mudah, tapi selama tiga hari pertama saya justru sadar, betapa gabutnya hidup saya…

Tidak ada lagi:

  • Scroll Facebook saat bangun tidur
  • YouTube Shorts saat pusing
  • Kekonyolan orang ribut di komentar
  • Kirim stiker dengan temen saat gabut
  • Meme kocak saat sedang stres

Tiba-tiba itu semua hilang.


Di situ saya menyadari, ternyata saya punya banyak sekali waktu luang yang bisa dialihkan.

Seperti membaca buku, menyelesaikan tulisan yang gapernah kelar, mengobrol dengan nenek, dan lain sebagainya.

Setelah day 3++, rasanya hidup tanpa sosmed tidak seburuk itu…


Perbedaannya terasa banget, kalau dilihat dari tabel ini:

SebelumSesudah
Doomscrolling tiap waktu kosongBuka sosmed secara sadar dan bertujuan
Overload informasiHanya info yang dipilih yang masuk
Main game buat ngejar rankMain game buat ngobrol dan seru-seruan
Sebelum tidur scroll, bangun tidur scrollSebelum tidur baca buku, bangun tidur bersyukur
Screen time 10++ jam sehariScreen time 1-2 jam sehari
Hindari bosan dengan distraksi instanRasa bosan jadi bahan bakar kreativitas

Tapi beneran, bosan sumpah.


Terima kasih sudah membaca, dan sampai jumpa di renungan selanjutnya, semoga.

Fuji

Selamat membaca.

Share