“Ke mana aja?”
Teman saya baik, bertanya dengan heran.
Saya sedang jarang membuka HP, selama beberapa hari ini.
Ada kok, di rumah, makan tidur dan menyapa kucing.
Ada, dan hidup. Tapi karena tidak terlihat di sosial media, bisa jadi dianggap tidak ada
Pertanyaan itu mengingatkan saya, ketika saya tidak bisa lepas dari HP.
Pandemi membuat saya tidak keluar rumah hingga tiga bulan, dan screentime pernah tembus 19 jam sehari.
Tangan saya selalu memegang HP, bahkan saat tidur.
Waktu itu, saya tidak merasa ada yang keliru dengan kebiasaan tersebut.
Saya mencoba untuk mengurangi screentime, tetapi gagal terus.
Terasa ada yang kurang kalau tanpa HP.
…
Suatu malam, saya lagi buka YouTube. Nontonin podcast Kevin Anggara & Eno Bening..
“Eh, lo kan punya buku?” ucap Kevin bertanya kepada Eno.
Di situ saya baru tahu, ternyata Eno Bening menulis buku.
Karena penasaran, saya cari di Shopee, dan ternyata ada. Cover bukunya gambar anime, entah kenapa menarik 😅
Jadi, saya beli :v

Bagaimana Sosial Media Menghancurkanmu – Eno Bening dkk.
Selama saya membaca bukunya,
saya menemukan fakta menarik. Bahwa, sosmed yang dulunya tempat buat sharing, sekarang berubah menjadi industri.
“Orang bisa dianggap ADA kalau akun sosmednya aktif, kalau tidak, seolah hilang dari sejarah.”
Di sosmed, kita bisa merasa bahwa sosmed adalah kenyataan itu sendiri. Contohnya di buku tersebut, pernah ada sebuah kasus.
Ada sepasang suami istri yang sudah menikah. Tapi, sang istri memasang status “lajang” di Facebook. Sang suami marah dan sampai memvunuh istrinya.
Ya, mungkin itu menjadi salah satu penyebab, tapi ini menandakan bahwa sosmed sudah menjadi suatu realita baru, yang mana di buku tersebut disebutnya hiperealitas.
Di mana kita sudah menganggap sosial media sebagai kenyataan itu sendiri.
Saya mulai memperhatikan, kebiasaan saya saat membuka sosmed.

Saat saya kecanduan, sudah otomatis aja.
Jikalau gabut, langsung buka sosmed. Gatau ngapain.
Kadang colek-colek orang di FB, kirim-kirim stiker ke temen di WhatsApp, -nyari foto di Pinterest buat dijadikan foto profil (ganti-ganti wkwk).
Fomo doang, penuh dengan ketidakpentingan…
Fenomena FOMO
Pernah ngga? Saat kamu melihat orang lain “bergerak” sedikit saja, kepala merasa tertinggal?
-
Takut tertinggal sesuatu
-
tapi malah meninggalkan mimpi kita sendiri
-
Malas mengerjakan yang penting
-
tapi kelewat rajin mengerjakan hal yang tidak berguna
Nah, di dalam buku itu, dijelaskan bahwa FOMO bisa mempengaruhi perilaku kita sehari-hari, lho.
Saya rekomendasikan untuk membacanya sendiri untuk lebih detail…
Mencoba Mengurangi
Ketika sedang scroll Facebook, orang yang saya follow yaitu Ahmad Saugi memposting.

“Puasa sosmed selama 30 hari”, katanya.
Ia juga menulis manfaat yang ia dapat saat pasca eksperimen tersebut.
- Fokus berjam-jam
- Lebih peaceful
- Membuka sosmed secara SADAR
Menarik…
Kemudian, saya ikut mencoba selama beberapa hari aja.
Saya mengira itu akan mudah, tapi selama tiga hari pertama saya justru sadar, betapa gabutnya hidup saya…
Tidak ada lagi:
- Scroll Facebook saat bangun tidur
- YouTube Shorts saat pusing
- Kekonyolan orang ribut di komentar
- Kirim stiker dengan temen saat gabut
- Meme kocak saat sedang stres
Tiba-tiba itu semua hilang.
Di situ saya menyadari, ternyata saya punya banyak sekali waktu luang yang bisa dialihkan.
Seperti membaca buku, menyelesaikan tulisan yang gapernah kelar, mengobrol dengan nenek, dan lain sebagainya.
Setelah day 3++, rasanya hidup tanpa sosmed tidak seburuk itu…
Perbedaannya terasa banget, kalau dilihat dari tabel ini:
| Sebelum | Sesudah |
|---|---|
| Doomscrolling tiap waktu kosong | Buka sosmed secara sadar dan bertujuan |
| Overload informasi | Hanya info yang dipilih yang masuk |
| Main game buat ngejar rank | Main game buat ngobrol dan seru-seruan |
| Sebelum tidur scroll, bangun tidur scroll | Sebelum tidur baca buku, bangun tidur bersyukur |
| Screen time 10++ jam sehari | Screen time 1-2 jam sehari |
| Hindari bosan dengan distraksi instan | Rasa bosan jadi bahan bakar kreativitas |
Tapi beneran, bosan sumpah.
Terima kasih sudah membaca, dan sampai jumpa di renungan selanjutnya, semoga.